Tuesday, March 27, 2012

SILATURAHIM NASIONAL ( SILATNAS ) 2012



SILATNAS CIREBON SUKSES
Ukhuwah Alumni Gontor Tidak Tertandingi

Sukses,tertib, lancar, dan terorganisir (STLT), itulah kesan dan ucapan yang tepat untuk menggambarkan pelaksanaan Silaturahim Nasional Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor di Cirebon pada tanggal 23 sampai 25 Maret 2012. Ada beberapa indikator penting untuk membuktikan acara ini sukses dan berhasil.

Pertama, dari segi kehadiran peserta silatnas. Acara ini telah berhasil menyatukan empat jenis unsur peserta, yaitu unsur Keraton Kasepuhan Cirebon, Pimpinan Pondok Modern Gontor, pejabat pemerintah, serta alumni Gontor di dalam dan luar negeri.
Pihak Keraton Kasepuhan diwakili oleh Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat. Menurut Sultan, silatnas ini merupakan jembatan berkumpulnya satu keluarga, dimana keluarga muda (baca alumni Gontor) menengok keluarga tua. “Silatnas ini bukan suatu kebutuhan tetapi suratan taqdir dari Allah yang menuntun alumni Gontor untuk menengok asal usul pendiri Pondok”, ungkap Sultan seraya memberikan gelar Raden kepada K.H. Abdullah Syukri dan K.H Hasan Abdullah Sahal.

Lebih lanjut, Sultan mengingatkan pesan dan wasiat Syarif Hidayatullah kepada generasi penerusnya. Wasiat dan pesan tersebut adalah “Insun titip tajug dan fakir miskin” yang astinya “saya titip masjid/mushalla dan fakir miskin”. Sebuah pesan yang sarat dengan makna integralitas, religi, dan sosial.

Dari jajaran Pimpinan Pondok Modern Gontor yang turut hadir adalah K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, K.H. Hasan Abdullah Sahal, keduanya sebagai Pimpinan Pondok Modern Gontor, K.H. Akrim Maryat Ketua PP IKPM, K.H. Masyhudi Shobari Direktur KMI, K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, H. Suyoto Arif, H. Nur Syahid, dan beberapa keluarga Pondok Gontor.

Sementara dari unsur pejabat pemerintah yang hadir dalam acara ini adalah Surya Dharma
Ali Menteri Agama, Nur Syam Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Dede Rosyada Direktur Pendidikan Islam, Dedi Jubaidi Direktur Madrasah yang nota bene alumni Gontor, Direktur Pesantren Ace Saifuddin, Syairozi Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Barat dan beberapa pejabat di wilayah Cirebon.

Sedangkan dari unsur alumni, menurut laporan ketua panitia, Tata Taufik, ada 2.500 alumni yang hadir, termasuk perwakilan IKPM luar negeri, yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Karena itu Menteri Agama menyebutnya sebagai silaturahim internasional bukan Silatnas, sebab pesertanya tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri.

Dari ketiga unsur tersebut, dapat dikatakan melalui ajang silatnas ini, telah
menyatu antara umara, ulama, dan rakyat. Sebuah pertemuan yang memadukan keharmonisan, kedamaian, kekeluargaan, kebersamaan, dan keakraban.

Indikator kedua, dari segi pendanaan. Penyelenggaraan acara silatnas ini murni didanai oleh alumni Gontor. “Acara ini murni didanai alumni Gontor. Panitia tidak mengajukan proposal kepada Kementerian atau Lembaga Pemerintah”, ungkap Tata Taufik dalam sambutannya. Hal ini, tambah Tata, menunjukkan rasa solidaritas, ukhuwah, kemandirian dan kemampuan para alumni. Diantara alumni yang memberikan sponsor, tambah Tata Taufik,
adalah Global Infiniti penyelenggara umrah dan haji mandiri sejahtera, Mutiara, Fannani Center, Barokah Jenang Kudus.

Ketiga, dari segi waktu penyelenggaraan. Acara ini didesain selama tiga hari, mulai
hari Jumat sampai Ahad. Memanfaatkan libur nasional Hari Nyepi yang jatuh pada hari Jumat disambung dengan Sabtu dan Ahad sehingga banyak alumni yang bisa hadir. Dengan waktu tiga hari, para alumni memiliki kesempatan yang cukup untuk saling bernostalgia, melepas kangen, dan bertukar informasi atau pengalaman.

Suasana seperti ini tentunya berbeda dengan penyelenggaraan silatnas di Jakarta Convention Center (JCC) pada tahun 2010 yang lalu. Acara diselenggarakan hanya satu hari, dari pagi sampai sore. Sehingga para alumni yang datang dari jauh tidak memiliki cukup waktu untuk melepas kangen dan bernostalgia sesama rekan alumni. Apalagi susunan acaranya sangat
padat. Akibatnya, saat menteri hadir, para alumni lebih memilih berada di luar ruangan daripada mendengarkan ceramah seorang menteri.

Keempat, aspek nilai ekonomi dan pengenalan potensi lokal. Nilai ekonomi ini terlihat dari stand pameran dan souvenir yang dikelola penitia. Ada stand produk alumni, stand makanan lokal seperti nasi jamblang, empal genthong, tape ketan hitam Cirebon, serta stand souvenir lainnya.

Kelima, aspek rangkaian acara kegiatan. Kegiatan silatnas kali ini, bisa dikatakan three in one. Yaitu gabungan antara keilmuan, kekeluargaan, dan seremonial. Kegiatan keilmuan diwujudkan dalam bentuk seminar sehari dengan tiga tema sekaligus. Ketiga tema tersebut adalah “Kiprah pesantren dan madrasah dalam membangun karakter bangsa”; “Optimalisasi peran dan jaringan IKPM untuk mensejahterakan ummat”; dan “ Kiprah politik santri pasca informasi”. Nara sumbernya juga dari para alumni sendiri. Diantaranya adalah Lukman Saifuddin Zuhri Wakil Ketua MPR-RI, Amsal Bakhtiar Pembantu Rektor II UIN Jakarta, Usman Syihab Pembantu Dekan I Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta.

Kekeluargaan diwujudkan dalam bentuk tajammu’, nostalgia,
temu kangen, tukar informasi dan pengalaman para alumni lintas marhalah. Mulai dari mereka yang tamat tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Semuanya tergabung dalam satu wadah, IKPM Gontor. Tidak ada lagi atribut dan sekat antar
angkatan.
“Saya sejak Jumat malam tidur di atas jam 02.00 dini hari karena asyik tajammu’ bersama alumni”, ungkap Amin Nurdin Ketua IKPM Jakarta yang turut hadir dalam acara silatnas ini.

Untuk acara seremonial, panitia penyelenggara mengemasnya dalam bentuk silaturahim di Keraton Kasepuhan Cirebon yang dihadiri oleh empat unsur utama, yaitu keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon, Pimpinan Pondok Modern Gontor, Menteri Agama dan jajarannya, serta
para alumni Gontor.

Semua acara tersebut terkoordinir dan baik. “Acara ini tertata, terkoordinir, dan terorganisir dengan baik sesuai dengan nama Ketua Panitia Tata Taufik”, ungkap Akrim Maryat yang langsung sisambut dengan tawa oleh hadirin.

Keenam, lokasi silatnas di Cirebon. Kota Cirebon sangat strategis karena mudah
dijangkau dari berbagai penjuru dengan banyak pilihan mode transportasi. Yang lebih penting lagi, kesediaan pihak Kerator Kasepuhan Cirebon untuk menjadi
tuan rumah merupakan upaya konkrit untuk menghubungkan kembali tali
persaudaraan antara alumni Gontor dan asal usul pendiri.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Gontor bisa menanamkan rasa ukhuwah dan solidaritas yang solid dan kuat di kalangan alumninya?
Padahal mereka memiliki kultur budaya, bahasa, profesi, dan bahasa yang berbeda-beda. Menurut Kyai Abdullah Syukri, di Gontor ada nilai, sistem,
materi, dan kultur. Keempat dimensi ini menyatu dalam sebuah proses pendidikan di dalam kelas dan di luar kelas. Sehingga pengertian pendidikan di Gontor mencakup apa yang dilihat, dirasa, dan dialami oleh santri.

Sejauh yang penulis rasakan, tidak ada lembaga pendidikan di Indonesia yang bisa menanamkan rasa ukhuwah di kalangan alumni seperti yang terjadi di Gontor. Karena itu, ketika diminta memperkenalkan diri dalam forum atau acara, para alumni Gontor selalu menyebut almamaternya. “Saya alumni Gontor tahun sekian kemudian melanjutnya ke…..”, demikian biasanya mereka memperkenalkan diri. Kata GONTOR itulah sebenarnya yang menyatukan dan mempererat hubungan antar alumni.

Ibarat rukun iman, maka lengkap lah sudah gambaran kesuksesan penyelenggaraan silatnas IKPM di Cirebon. Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih, selamat dan sukses, bravo, tahniah, mabruk, dan congratulation.
Semoga apa yang dilakukan panitia Silatnas, baik panitia di Gontor, Jakarta, Cirebon, dan tempat lainnya, menjadi amal kebajikan dan mendapat pahala yang berlipat di sisi Allah. Amin.
(Bambang–Alumni 88)

Sunday, March 18, 2012

SELAYANG PANDANG GONTOR

Sejarah

Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada tgl 20 September 1926/ 12 Rabi’ul Awwal 1345
oleh tiga bersaudara:
K.H. Ahmad Sahal (1901 – 1977)
K.H. Zainudin Fananie (1908 – 1967)
K.H. Imam Zarkasyi (1910 – 1985)

5 Syawwal 1355/19 Desember 1936
Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi.
Sebuah sekolah tingkat menengah, masa belajar 6 th, untuk mencetak guru-guru Islam, dengan sistem pesantren, mengajar-kan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum secara seimbang.
Pelajaran agama dan bahasa (Arab dan Inggris) disampaikan dengan bahasa pelajaran (tidak diterjemahkan).

1948
Terjadi Pemberontakan PKI di Madiun, Para Kyai di wilayah Madiun dan sekitarnya ditangkap dan ditawan oleh gerombolan PKI, termasuk Kyai Gontor. Sebagian besar mereka dibantai, namun para Kyai Gontor selamat berkat bala bantuan dari Pasukan Siliwangi.

28 Rabi’u Awal 1378/ 12 Oktober 1958
Para pendiri Pondok mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat.
Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota IKPM yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG. 29 Jumada Tsaniyah 1383/ 17 Nopember 1963
Perguruan Tinggi Darussalam berdiri. Sejak 1996 diubah namanya menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
ISID mempunyai 3 fakultas:
Tarbiyah; jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pengajaran Bahasa Arab.
Ushuluddin; jurusan Perbandingan Agama, Filsafat Pemikiran Islam.
Syari’ah; jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum; dan jurusan Manajemen & Lembaga Keuangan Islam.

7 Dzulhijjah 1386/ 19 Maret 1967
Terjadi pemberontakan terhadap Kyai/Pimpinan Pondok, didalangi oleh sebagian santri senior, bertujuan mengambil alih kepemimpinan di Pondok.
Kyai/Pimpinan Pondok memulangkan seluruh santrinya. Pondok untuk sementara waktu diliburkan.
Hanya sebagian santri yang dipanggil oleh Pimpinan Pondok yang boleh kembali belajar/nyantri di PMDG.
Pasca peristiwa, semakin banyak santri yang datang dan Pondok bertambah maju pesat.

Generasi Kedua
30 Rajab 1405/ 21 April 1985, K.H. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok terakhir, wafat.
Sidang Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru:
K.H. Shoiman Luqmanul Hakim
K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
K.H. Hasan Abdullah Sahal
Th 1999, K.H. Shoiman Luqmanul Hakim wafat, digantikan oleh Drs. K.H. Imam Badri (wafat 8 Juni 2006)
Thn 2006, Drs. KH Imam Badri
Visi

Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tetap berjiwa pesantren.
Misi

1. Membentuk generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
2. Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengeta-huan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek.
Mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Tujuan

Terwujudnya generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir.
Terwujudnya warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Motto

Berbudi tinggi
Berbadan sehat
Berpengetahuan luas
Berpikiran bebas

Panca Jiwa

Keikhlasan
Kesederhanaan
Berdikari
Ukhuwah Islamiyah
Jiwa Bebas

Panca Jangka

Pendidikan dan Pengajaran
Kaderisasi
Pergedungan
Pengadaan Sumber Dana
Kesejahteraan Keluarga Pondok

Orientasi Pendidikan & Pengajaran

Keislaman
Keilmuan
Kemasyarakatan

Strategi Pendidikan

Kehidupan Pondok dengan segala TOTALITASNYA menjadi media pembelajaran dan pendidikan.
Pendidikan berbasis komunitas: segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Profil Alumni

Mukmin, muslim, muhsin.
Komit pada perjuangan.
Perekat ummat.
Berjiwa guru.
Warga negara yang baik.

Kurikulum KMI

Kurikulum KMI terdiri dari Ilmu Pengetahuan Umum 100%, Ilmu Pengetahuan Agama 100%.
Hal ini menunjukkan bahwa antara ilmu agama dan umum tidak dapat dipisahkan, semuanya ilmu Islam. Semua bersumber dari Allah dengan segala ciptaan-Nya atau segala sesuatu yang lahir dari ciptaan-Nya.
Secara mendasar, tujuan pengajaran kedua macam ilmu tersebut adalah untuk membekali siswa dengan dasar-dasar ilmu menuju kesempurnaan menjadi ‘abid dan khalifah.
Kurikulum KMI tidak terbatas pada pelajaran di kelas saja, melainkan keseluruhan kegiatan di dalam dan di luar kelas merupakan proses pendidik-an yang tak terpisahkan.

Isi Kurikulum

Bahasa Arab
‘Ulum Islamiyah; utk kls II ke atas menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar.
Keguruan
Bahasa Inggris
Ilmu Pasti; Matematika dan IPA
Ilmu Pengetahuan Sosial
Keindonesiaan/Kewarganegaraan

Guru KMI

Berasal dari tamatan KMI Gontor, atau lulusan KMI yang telah tamat belajar di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri; dan wajib bertempat tinggal di asrama.
Tugas:
Sebagai guru/pendidik;
Sebagai mahasiswa ISID;
Sebagai pembantu Pondok: tata usaha, pengurus unit usaha, pembimbing kegiatan santri, dll.

Peningkatan Kompetensi Guru

Penataran dan Pelatihan
Ta’hil ( Pengayaan Guru Materi Pelajaran) – Program Mingguan.
Tugas Belajar
Pemeriksaan Satuan Pelajaran
Supervisi Pengajaran
Pemeriksaan Pencapaian Target KBM dg memeriksa catatan siswa.


Kegiatan KMI

Kegiatan Harian: KBM di kelas dan Lab. IPA.
Kegiatan Mingguan: Pertemuan Guru (setiap Kamis siang), Pertemuan Ketua Kelas (setiap Jum’at malam), Rapat Pengurus KMI (setiap Rabu malam).
Kegiatan Tengah Tahunan: Ujian Tengah Semester I & II dan Ujian Akhir Semester I & II.
Kegiatan Tahunan: Kajian kitab klasik dan kontemporer, latihan membuka kamus arab, praktek mengajar, economic study tour, penulisan karya ilmiah, manasik haji.
Bentuk Evaluasi/Ujian: Tengah Semester, Semester, dan Akhir (EBTA).
Semester & EBTA: Lisan; Tulis; dan Praktek.

Kalender Kegiatan

Pendaftaran Calon Siswa & Daftar Ulang: 2 – 10 Syawwal.
Pembukaan Tahun Pelajaran: 11 Syawwal.
Ujian Masuk KMI: 11 Syawwal
Ujian Semester I: 13 Safar – 8 R. Awwal.
Liburan Semester I: 10 – 19 R. Awwal.
Ujian Akhir (EBTA) Kelas VI: 1 J. Tsaniyah – 21 Rajab; Praktek Mengajar, Ujian Lisan, Ujian Tulis.
Ujian Semester II: 25 Rajab – 18 Sya’ban.
Liburan Semester II: 20 Sya’ban – 10 Syawwal.

Pengakuan

Menteri Pendidikan dan Pengajaran Republik Arab Mesir, tahun 1957
Kementerian Pengajaran Kerajaan Arab Saudi, tahun 1967
University of the Punjab, Lahore, Pakistan, tahun 1991
Dirjen Binbaga Islam Depag RI th. 1998
Menteri Pendidikan Nasional RI th. 2000

Syarat Masuk KMI

Tamat SD/MI atau SLTP (utk program Intensif).
Lulus Tes Lisan: Al-Qur’an dan Ibadah.
Lulus Tes Tulis: Hitung Angka, Hitung Soal, Bahasa Indonesia, dan Imla’ (dikte arab).
Sehat jasmani & rohani (pemeriksaan di BKSM Pondok Modern Gontor).
Memenuhi persyaratan administrasi.
Siap bertempat tinggal di asrama.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Pramuka
Olahraga
Kesenian
Latihan Pidato dlm bhs Indonesia, Arab, dan Inggris
Khutbah Jum’at
Tau’iyah Diniyah
Diskusi
Kursus Komputer
Praktek di Laboratorium Bahasa
Kursus Jurnalistik
Majalah Dinding dlm bhs Arab dan Inggris
Baca buku di Perpustakaan
Keterampilan
Praktek Manajemen Organisasi dan Koperasi
Bersih Lingkungan, dll.

CIREBON DAN LATAR BELAKANG PONDOK MODERN "DARUSSALAM" GONTOR

LATAR BELAKANG

Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.

Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari. Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah;

KH. Ahmad Sahal (1901-1977)
KH. Zainuddin Fanani (1908-1967)
KH. Imam Zarkasyi (1910-1985)

Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah.

Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh:

KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi

KH. Hasan Abdullah Sahal

KH. Syamsul Hadi Abdan

SEJARAH PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR Bag. 4

PEMBUKAAN KULLIYATUL MUALIMIN AL-ISLAMIYAH, 1936

Pondok Gontor yang telah dibuka kembali terus berkembang. Kehadiran TA telah membawa angin segar yang menggugah minat belajar masyarakat. Program pendidikan di TA pun berkembang. Jika pada awalnya TA hanya bermula dengan mengumpulkan anak-anak desa dan mengajari mereka mandi dan membersihkan diri serta cara berpakaian untuk menutupi aurat mereka, maka dalam satu dasawarsa kemudian lembaga ini telah berhasil mencetak para kader Islam dan muballigh di tingkat desa yang tersebar di sekitar Gontor. Melalui mereka nama Gontor menjadi lebih dikenal masyarakat.

Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati pengasuh pesantren yang baru dibuka kembali ini. Banyak sekali yang perlu disyukuri. Terlebih lagi setelah K.H. Imam Zarkasyi kembali dari belajarnya di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Jawa dan Sumatra pada tahun 1935. Beliau mulai ikut membenahi pendidikan di Pondok Gontor Baru ini. Kesyukuran tersebut ditandai dengan Peringatan atau “Kesyukuran 10 Tahun Pondok Gontor”. Acara kesyukuran dan peringatan menjadi semakin sempurna dengan diikrarkannya pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) atau Sekolah Guru Islam pada tanggal 19 Desember 1936. Program pendidikan baru ini ditangani oleh K.H. Imam Zarkasyi, yang sebelumnya pernah memimpin sekolah serupa tetapi untuk perempuan, yaitu Mu’allimat Muhammadiyah di Padang Sidempuan, Sumatra Utara.

Dalam peringatan 10 tahun ini pula tercetus nama baru untuk Pondok Gontor yang dihidupkan kembali ini, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor. Nama ini merupakan sebutan masyarakat yang kemudian melekat pada Pondok Gontor yang nama aslinya Darussalam, artinya Kampung Damai. Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) adalah Sekolah Pendidikan Guru Islam yang modelnya hampir sama dengan Sekolah Noormal Islam di Padang Panjang; di mana Pak Zar menempuh jenjang pendidikan menengahnya. Model ini kemudian dipadukan dengan model pendidikan pondok pesantren. Pelajaran agama, seperti yang diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya, diajarkan di kelas-kelas. Namun pada saat yang sama para santri tinggal di dalam asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan pesantren. Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam. Pelajaran agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka 6 tahun. Pendidikan ketrampilan, kesenian, olahraga, organisasi, dan lain-lain merupakan bagian dari kegiatan kehidupan santri di Pondok.

Pada tahun pertama pembukaan program ini, sambutan masyarakat belum memuaskan. Bahkan tidak sedikit kritik dan ejekan yang dialamatkan kepada program baru yang diterapkan oleh Gontor. Sistem pendidikan semacam yang diterapkan oleh Gontor tersebut memang masih sangat asing. Sistem belajar secara klasikal, penggunaan kitab-kitab tertentu yang tidak umum dipakai di pesantren, pemberian pelajaran umum, guru dan santri memakai celana panjang dan dasi. Demikian juga pemakaian Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan bahkan juga Bahasa Belanda, ketika itu masih dianggap tabu. Sebab Bahasa Arab adalah bahasa Islam sedangkan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda adalah bahasa orang kafir.

Masih asingnya sistem pendidikan baru ini menyebabkan merosotnya jumlah santri Gontor saat itu. Santri Gontor yang sebelumnya berjumlah ratusan kini hanya tinggal 16 orang. Keadaan ini tidak mematahkan semangat Pak Sahal dan Pak Zar. Dalam keadaan demikian Pak Zar bertekad dan berucap: “Biarpun tinggal satu saja dari yang 16 orang ini, program akan tetap akan kami jalankan sampai selesai, namun yang satu itulah nantinya yang akan mewujudkan 10…100 hingga 1000 orang.” Bahkan suatu saat Pak Zar pernah berujar: “Seandainya saya tidak berhasil mengajar dengan cara ini, saya akan mengajar dengan pena.” Pak Sahal juga tanpa ragu-ragu berdoa: “Ya Allah, kalau sekiranya saya akan melihat bangkai Pondok saya ini, panggillah saya lebih dahulu kehadirat-Mu untuk mempertanggung jawabkan urusan ini.”

Allah rupanya mendengar doa dan tekad kakak-beradik itu. Pada tahun kedua, mulai datang para santri dari Kalimantan, Sumatra, dan dari berbagai pelosok tanah Jawa. Gontor mulai ramai oleh kehadiran para santri yang semakin banyak.

Akhirnya, setelah tiga tahun berjalan, Pondok Gontor dibanjiri oleh para santri dari berbagai kota dan pulau dengan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah baik pengetahuan agamanya tetapi lemah dalam pengetahuan umum dan ada pula yang sebaliknya. Untuk mengatasi persoalan ini dibukalah kelas khusus untuk menampung mereka, yaitu Voorklas atau Kelas Pendahuluan.

Setelah perjalanan tiga tahun, pelajaran sudah harus ditingkatkan, maka dibukalah tingkatan yang lebih tinggi bernama Bovenbow. Jumlah santri yang semakin banyak dan pembukaan kelas baru ini menimbulkan persoalan baru, yaitu terbatasnya jumlah guru. Dalam kondisi demikian ini tidak jarang Pak Zar mengajar 2 kelas dalam satu jam pelajaran. Namun pada tahun kelima datanglah seorang guru muda bernama R. Muin yang cakap berbahasa Belanda. R. Muin ini kemudian diserahi mengajar Bahasa Belanda untuk murid-murid kelas I tingkat atas, atau kelas IV.

Setelah berjalan 5 tahun, pengembangan tingkatan pendidikan di KMI menjadi sebagai berikut :

a. Program Onderbow, lama belajar 3 tahun.

b. Program Bovenbow, lama belajar 2 tahun.

SEJARAH PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR Bag. 3

PEMBUKAAN TARBIYATUL ATHFAL, 1926

Langkah pertama untuk menghidupkan kembali Pondok Gontor adalah dengan membuka Tarbiyatul Athfal (T.A.); suatu program pendidikan anak-anak untuk masyarakat Gontor. Materi, prasarana, dan sarana pendidikannya sangat sederhana. Semuanya dilakukan dengan modal seadanya. Tetapi dengan kesungguhan, keuletan, kesabaran, dan keikhlasan pengasuh Gontor Baru, usaha ini telah dapat membangkitkan kembali semangat belajar masyarakat desa Gontor. Program inipun pada berikutnya tidak hanya diikuti oleh anak-anak, orang dewasa juga ikut belajar di tempat ini. Peserta didiknya juga tidak terbatas pada masyarakat desa Gontor, tetapi juga masyarakat desa sekitar.

Para santri T.A. itu dididik langsung oleh Pak Sahal (panggilan populer untuk K.H. Ahmad Sahal). Dengan beralaskan tikar dan daun kelapa, pendidikan dilangsungkan pada siang dan malam. Pada siang hari mereka belajar di bawah pepohonan di alam terbuka, sedangkan pada malam hari mereka belajar diterangi oleh lampu batok (tempurung kelapa). Berkat kegigihan dan keuletan beliau, pada tiga tahun pertama para santri yang belajar di Pondok Gontor telah mencapai jumlah 300. Mereka belajar tanpa dipungut biaya apapun. Bahkan tidak jarang pengasuh Pondok yang memenuhi keperluan sehari-hari mereka. Pada prinsipnya, tujuan utama pembelajaran di Tarbiyatul Athfal adalah penyadaran siswa terhadap pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama.

Pada usia tujuh tahun, siswa T.A. telah mencapai 500 orang putra dan putri. Fasilitas belajar-mengajar belum mencukupi sehingga mereka belajar di rumah-rumah penduduk dan sebagian masih di alam terbuka di bawah pepohonan. Tekad membuat bangunan untuk ruang kelas semakin menguat, tetapi dana tidak ada, karena selama sepuluh tahun pertama siswa tidak dipungut bayaran apapun. Untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan dibentuklah “Anshar Gontor”, yaitu orang-orang yang bertugas mencari dana di seluruh wilayah Jawa. Selain itu para santri di dalam Pondok juga dilibatkan dalam pembuatan batu merah.

Tarbiyatul Athfal terus berkembang seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk belajar. Karena itu, setelah berjalan beberapa tahun, didirikanlah cabang-cabang Tarbiyatul Athfal di desa-desa sekitar Gontor. Madrasah-madrasah Tarbiyatul Athfal di desa-desa sekitar Gontor itu ditangani oleh para kader yang telah disiapkan secara khusus melalui kursus pengkaderan. Di samping membantu pendirian madrasah-madrasah TA tersebut, mutu TA di Gontor juga ditingkatkan agar para lulusannya memiliki kemampuan yang memadai untuk ikut berkiprah membina beberapa TA cabang yang ada. Untuk itu dibukalah jenjang pendidikan di atas TA yang diberi nama Sullamul Muta’allimin.

SEJARAH PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR Bag. 2

Pondok Gontor Lama

Gontor adalah sebuah desa yang terletak lebih kurang 3 KM sebelah timur Tegalsari dan 11 KM ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun, pemabuk, dan sebagainya.

Di tempat inilah Kyai muda Sulaiman Jamaluddin diberi amanat oleh mertuanya untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari. Dengan 40 santri yang dibekalkan oleh Kyai Khalifah kepadanya, maka berangkatlah rombongan tersebut menuju desa Gontor untuk mendirikan Pondok Gontor.

Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak juga santri yang datang dari daerah Pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putera beliau bernama Santoso Anom Besari. Kyai Santoso adalah generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama. Pada kepemimpinan generasi ketiga ini Gontor Lama mulai surut; kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Di antara sebab kemundurannya adalah karena kurangnya perhatian terhadap kaderisasi. Jumlah santri hanya tinggal sedikit dan mereka belajar di sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai seperti waktu-waktu sebelumnya. Walaupun Pondok Gontor sudah tidak lagi maju sebagaimana pada zaman ayah dan neneknya, Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama di desa Gontor. Ia tetap menjadi figur dan tokoh rujukan dalam berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut, Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Dengan wafatnya Kyai Santoso ini, masa kejayaan Pondok Gontor Lama benar-benar sirna. Saudara-saudara Kyai Santoso tidak ada lagi yang sanggup menggantikannya untuk mempertahankan keberadaan Pondok. Yang tinggal hanyalah janda Kyai Santoso beserta tujuh putera dan puterinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan Masjid tua warisan nenek moyangnya.

Tetapi rupanya Nyai Santoso tidak hendak melihat Pondok Gontor pupus dan lenyap ditelan sejarah. Ia bekerja keras mendidik putera-puterinya agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu menghidupkan kembali Gontor yang telah mati. Ibu Nyai Santoso itupun kemudian memasukkan tiga puteranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan lain untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal (anak kelima), Zainuddin Fannani (anak keenam), dan Imam Zarkasyi (anak bungsu). Sayangnya, Ibu yang berhati mulia ini tidak pernah menyaksikan kebangkitan kembali Gontor di tangan ketiga puteranya itu. Beliau wafat saat ketiga puteranya masih dalam masa belajar.

Sepeninggal Kyai Santoso Anom Besari dan seiring dengan runtuhnya kejayaan Pondok Gontor Lama, masyarakat desa Gontor dan sekitarnya yang sebelumnya taat beragama tampak mulai kehilangan pegangan. Mereka berubah menjadi masyarakat yang meninggalkan agama dan bahkan anti agama. Kehidupan mo-limo: maling (mencuri), madon (main perempuan), madat (menghisap seret), mabuk, dan main (berjudi) telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Ini ditambah lagi dengan mewabahnya tradisi gemblakan di kalangan para warok.

Demikianlah suasana dan tradisi kehidupan masyarakat Gontor dan sekitarnya setelah pudarnya masa kejayaan Pondok Gontor Lama

SEJARAH PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR Bag. 1

PONDOK TEGALSARI

Pada paroh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatan kota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain.
Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, dll. Sekadar menyebut sebagai contoh adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah SWT mengabulkan doa Paku Buana II. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buana II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.

Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.